Aktor "Geger" Dipuji Wakil Dekan ISI Solo

img

H Pance ( bawah, yang memerankan Raja Mangku Alam didongkel tahtanya oleh Perdana Menteri (Wawan Timoer)

POSKOTAKALTIMNEWS.COM, SOLO Pementasan naskah "Geger" karya tokoh teater Kaltim Hamdani, mendapat paujian dan acunga  jempol dari Wakil Dekan Seni Pertunjukan ISI (Institut Seni Indonesia) Solo, Isa Ansori,  saat tampil di Pendopo ISI Solo Sabtu (3/11) malam lalu.

Menurut Isa Ansori, pemain-pemain teater Matahari yang tampil dalam "Geger"  cukup bagus dan mampu memainkan watak dengan pas.

"Saya sangat surprise, naskah "Geger" sangat bagus dan sangat relevan. Pengarang mampu memotret situasi kondisi saat ini. Saya senang ternyata teater Matahari tidak terjebak dalam sebuah naskah yang pesanan. 

"Maksud saya Teater Matahari tidak terjebak memainkan naskah yang isinya memuji pemesan, melainkan murni mengangkat naskah yang bagus. Dan ini sangat tepat untuk Dinas Pariwisata yang tidak memaksakan kehendak," ungkap Isa usai pementasan.

Hadirnya Teater Matahari yang tampil di Pendopo ISI Solo, ditambahkan Isa sangat tepat, apalagi ISI Solo juga telah melakukan penandatangan proyek kerjasama di bidang seni dengan Dinas Pariwisata Kaltim.

"Tentunya dengan kerjasama ini, pihak ISI Solo bertanggung jawab atas kemajuan dan perkembangan seni pertunjukan di Kaltim. Tidak hanya seni pertunjukan melainkan seni yang lainnya," papar Isa Ansori.

Pementasan "Geger" sendiri mampu membuat penonton yang ada terpaku dikursinya masing-masing. Penonton terlihat hening dan semua menyimak dialog-dialog antar pemain. Dialog antar pemain itu mampu membuat penonton terhipnotis. Pemain teater Matahari seperti H Pance yang memerankan Raja Mangku Alam bermain cukup total, demikian juga dengan Wawan Timoer sebagai Perdana Menteri dan juga HM Noor (Panglima Perang), Fathurrozy ( Putra Mahkota), Dede Musdalifah (Putri Mayang) dan patut diacungi jempol adalah M Sabir sebagai Khadam mampu membawa penonton pada suasana yang diinginkan sutradara. Kemampuan Sabir yang sudah berkecimpung dalam dunia teater tak perlu diragukan. Demikian juga dengan Wawan Timoer dan H Pance. Mereka adalah jaminan sebuah pementasan teater.

Naskah "Geger" adalah sebuah naskah yang bercerita soal intrik perebutan kekuasaan di Kerajaan Batu Besaung antar keluarga, yang saling menyimpan dendam antara Raja Mangku Alam, Perdana Menteri, Panglima Perang dan Putri Mayang. Sedangkan Putra Mahkota hanya menuruti kemauan Perdana Menteri. Disinilah konflik menarik itu di bangun dan Khadam sebagai abdi dalem yang dipercaya Di lingkungan kerajaan mampu memanfaatkan situasi yang runyam iti dengan baiknya. Raja dan petinggi kerajaan di adu domba dan di provokasi.

" Aku Khadam, aku rakyat yang menyimpan dendam dan kini aku membalas dendam. Aku adu mereka, aku provokasi mereka dan akhirnya saling bunuh. Kekuasaan itu bedebah, kekuasaan itu penindasan, kekuasaan itu pembunuhan dan kekuasaan itu kematian." ucap Khadam.

Lalu dengan tertatih-tatih Khadam berjalan sambil menangis. Putri Mayang yang melihat Khadam berjalan bertanya Khadam kau mau kemana. Dengan pelan Khadam menjawab  dia berjalan mencari kekuasaan untuk dibunuh.

Ending cerita yang menarik sekaligus miris.

Pementasan "Geger" di Pendopo ISI Solo itu membuat tokoh Bengkel Teater Rendra A Untung Basuki tercengang dan bangga, sebab menurut Untung Basuki yang lama berada di Kaltim, sangat bagus.

"Naskahnya benar-benar sesuai kondisi saat ini. Sangat pas dan tidak menggurui, semuanya diserahkan ke penonton untuk menyimpulkan. Hamdani sangat arif," kata Untung Basuki usai pertunjukan.(hoesin kh)